Wednesday, May 24, 2017

SERINGLAH BELAJAR


Sering terdengar kata belajar, apakah belajar sesuatu yang penting atau tidak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan substantif. Jika tidak penting maka belajar minus manfaatnya. Sebaliknya, apabila belajar bermanfaat maka belajar menjadi sesuatu keharusan. Jika suatu keharusan, maka tidak boleh sedikitpun dari waktu yang kita miliki tidak digunakan untuk belajar.
Belajar adalah aktivitas ilmiah dan logis, sebab belajar suatu proses mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Pengetahuan akan didapat dengan serta merta dengan suatu aktivitas yang melibatkan pikiran dan memaknai. Apabila seseorang sudah memiliki pengetahuan tentang sesuatu berarti orang tersebut tidak perlu lagi belajar. Karena belajar diartikan suatu proses mengetahui sesuatu yang baru. Banyak hal dalam kehidupan ini belum terungkap dan diungkap sehingga aktivitas belajar perlu dilakukan.
Bahkan belajar tidak mengenal batas usia, sebab belajar tidak dibatasi dengan waktu. Semua orang harus belajar tentang kehidupan ini supaya dapat mengetahui banyak hal dan pada akhirnya menjadikan seseorang pintar, arif, dan mampu memaknai kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Dalam pendidikan dikenal dengan pernyataan ‘long life of education’, sebuah pernyataan yang mengisyaratkan bahwa usia tidak pernah dibatasi untuk belajar. Artinya, proses pendidikan berlangsung seumur hidup. Sedangkan esensi dari pendidikan adalah belajar.
Salah satu perubahan sosial adalah pendidikan. Disamping terdapat faktor lain yang ikut serta mendorong perubahan sosial. Ketika pendidikan seseorang membaik maka kehidupan seseorang akan membaik juga. Begitu juga dengan kehidupan bangsa, ketika suatu bangsa pendidikannya bagus atau high quality, maka secara otomatis peradaban bangsa tersebut ikut menjadi bagus.  Pada sisi lain, banyak orang - orang sukses di dunia ini tidak ada yang tidak belajar. Dan belajar tidak selalu harus formal dengan kelembagaan yang formal juga. Tidak menjalani pendidikan formal dan berpendidikan tinggi tidak berarti orang tersebut tidak belajar. Orang akan selalu belajar, apalagi jika berkaitan dengan bidang keahlian dan pekerjaannya.

Ada orang belajar dari kegagalannya bahkan dari keberhasilannya. Karena kegagalan akan menyumbang pengetahuan yang berharga untuk dirinya, namun apabila orang tersebut mau belajar dari kegagalan sehingga muncul sikap positif sehingga dikemudian menjadi perbaikan. Bahkan, penting bagi setiap orang untuk selalu belajar dari kegagalan, keberhasilan dirinya bahkan dari orang lain. Membaca riwayat hidup atau biografi orang lain penting  karena akan menjadi pengalaman buat kita. Setidaknya, kita dapat mengerti metode dan strategi yang pernah dilakukan oleh orang lain dalam mencapai visi pribadinya maupun lembaga dimana seseorang bekerja.

Tuesday, May 23, 2017

BUKAN KRISIS ULAMA



A.    PENDAHULUAN

Berbicara tentang ulama merupakan perbincangan yang menarik dan mengundang  perhatian semua pihak. Ulama adalah manusia biasa, seperti manusia pada umumnya. Ulama bukanlah Nabi yang menerima wahyu untuk disampaikan kepada manusia. Dan bukan Rasul yang diutus untuk umatnya. Ulama merupakan bagian terpenting dari diskusi keislaman. Dimana Ulama mempunyai peran penting dan penentu bagi tegaknya ajaran Islam. Sebab, ulama adalah figur ilmuwan Islam dan pewaris Nabi. Ulama sebagai pengganti Nabi, karena periode kenabian telah berakhir. Dan tidak ada Nabi yang akan muncul dan diutus kembali setelah Nabi Muhammad Saw wafat. Ulama sebagai figur ilmuwan Islam tentu memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi untuk menjadi pengganti Nabi.
Setiap individu terbuka peluang untuk menjadi ulama dan tidak ada batasan kuota yang ditentukan, jadi siapa saja yang ingin memilih menjadi ulama tidak dilarang. Justeru didorong agar umat Islam memperdalam ilmu agamanya dan keimanannya. Ulama tidak terlahir secara alamiah tetapi harus dibentuk dan dididik agar menjadi ulama. Hal ini berbeda dengan para Nabi dan Rasul yang sudah ditentukan oleh Allah Swt. Artinya, peluang untuk membentuk dan melahirkan ulama sangat diperlukan dalam rangka melanjutkan risalah kenabian dan menjaga otentisitas ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw dapat terpelihara dengan baik. Jika kemudian terjadi krisis ulama, maka kondisi ini sangat dilematis dan menyedihkan. Kemurnian (pure) ajaran Islam tidak akan terpelihara dengan baik manakala jumlah ulama relatif terbatas. Krisis ulama dilihat bukan dari krisis kepribadian dan keilmuan, akan tetapi dilihat dari kuantitas ulama yang terbatas.
Kerap terdengar pernyataan krisis ulama, apakah pernyataan ini ingin mengatakan bahwa jumlah ulama di negeri ini sudah terbatas atau stocknya sudah berkurang sehingga memunculkan pernyataan tersebut. Apabila  terjadi krisis ulama, siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang akan menjamin tidak akan ada krisis. Atau maksud dari pernyataan tersebut ingin mengatakan bahwa bukan  krisis ulama  tetapi krisis aktualisasi ulama. Karena antara krisis  ulama dengan krisis aktualisasi ulama berbeda. Meskipun demikian yang namanya krisis itu tetap tidak menyenangkan dan akan berdampak buruk bagi upaya penguatan ajaran Islam serta umat Islam akan kehilangan pembimbingnya.

1.        Tidak ada Krisis Ulama

Makna krisis lebih pada situasi dimana terjadi kemorosotan dan  kekurangan atau mengarah pada situasi yang genting. Sehingga membutuhkan penanganan yang serius dan diperlukan antisipasi yang cepat agar situasi itu tidak terjadi. Krisis ulama adalah gambaran mengenai  jumlah ulama secara kuantitas sudah sangat terbatas.  Keterbatasan ini, tentu menjadi masalah yang serius, jika memang kondisi ini benar-benar terjadi. Pertanyaannya,  kenapa terjadi krisis ulama, bukankah kita mengetahui bahwa jumlah lembaga pendidikan Islam di negeri ini sangat banyak. Dan apakah lembaga pendidikan Islam tersebut tidak berjalan dengan baik sehingga proses pembentukan ulama mengalami stagnan. Sebab, ulama terlahir dari rahim lembaga pendidikan Islam, hampir tidak ada individu berstatus ulama yang tidak dibentuk melalui lembaga pendidikan Islam.
Ribuan lembaga pendidikan Islam terus berusaha untuk melahirkan ulama, mulai dari madrasah, pasantren baik yang bersifat tradisionil (salafi) maupun modern (khalafi) dan perguruan tinggi Islam. Dan jumlah  lulusan dari lembaga ini juga ribuan setiap tahunnya. Akankah  pernyataan krisis ulama dapat diterima logika dan nalar sehat.  Jika, dilihat dari jumlah lembaga pendidikan Islam tersebut,  sepertinya tidak mungkin krisis ulama, justeru surplus ulama di negeri ini. Kalau surplus, berarti krisis tidak pernah ada. Jika tetap krisis, maka sangat tidak rasional. Kondisi yang paling mungkin dan rasional adalah krisis aktualisasi ulama yang terjadi dan bukan krisis ulama.


2.        Krisis Aktualisasi Ulama

Bukan krisis ulama, tetapi krisis aktualisasi ulama. Krisis aktualisasi ulama berbeda dengan krisis ulama. Krisis ulama dilihat dari kuantitas, sedangkan krisis aktualisasi ulama dilihat dari eksistensi. Secara empirik, eksistensi ini terlihat dalam aktualisasi personal. Jika lulusan atau alumni lembaga pendidikan Islam tidak konsen dan komit dengan disiplin ilmu yang dipelajari dan diaktualkan dalam kehidupan sosial, maka secara eksplisit terlihat sebuah kondisi krisis. Padahal, sejatinya tidak krisis bahkan surplus. Aktualisasi menjadi aspek terpenting, supaya ilmu yang diperoleh lebih aplikatif di masyarakat. Cita-cita ideal lembaga pendidikan Islam agar para lulusannya berkiprah sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni dan harus linier dengan profesi dan pekerjaannya. Sebab, barometer untuk melihat sukses dan tidak suskesnya lulusan juga dilihat dari kesesuaian antara ilmu yang dipelajari dengan profesi yang ditekuni. Jika lulusan tidak bekerja sesuai dengan disiplin ilmunya, maka aktualisasi personal tidak berjalan dengan baik  sehingga upaya untuk  evaluasi  menjadi pilihan yang segera dilakukan. Atau adanya kondisi tertentu yang membuat lulusan tersebut mengaktualkan dirinya bukan dalam bidang keilmuannya.
Nah, inilah yang disebut dengan krisis aktualisasi ulama dan bukan krisis ulama. Jika saja semua lulusan atau alumni eksis maka pernyataan krisis ulama tidak muncul kepermukaan. Hanya saja diperlukan proses upgrade para lulusan untuk lebih meningkatkan kualitasnya. Kualitas ini juga akan menentukan perbedaan diantara ulama itu sendiri. Ketika, eksistensi dan aktualisasinya lebih kuat, maka akan muncul ulama populer dan tidak populer, ulama yang kondang dan tidak kondang.  Dan tidak berarti yang tidak populer dan tidak kondang bukan ulama. Mereka semua ulama, karena dibentuk dan dilahirkan dari lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non formal.  Sebagai ilustrasi, ketika seorang sarjana lulus dari perguruan tinggi Islam dengan prediket cumloude, sangat memuaskan dan memuaskan. Namun mereka  tetap disebut  sarjana tanpa penyebutan tingkat prestasi kelulusannya, misalnya; sarjana cumloude, sarjana sangat memuaskan dan sarjana memuaskan. Artinya, mereka semua disebut sarjana setelah lulus, walaupun indek prestasi mereka berbeda satu dengan lainnya. Terlepas dari semua itu, pernyataan mengenai  krisis ulama  sesungguhnya  tidak ada  manakala kita setuju dan mengakui bahwa semua lulusan lembaga pendidikan Islam adalah ulama. Maka yang ada hanya krisis aktualisasi ulama.

3.        Siapa Yang Disebut Ulama
Ulama bukanlah insitusi atau organisasi. Ulama adalah  makna umum untuk menyebut kompetensi  personal dalam bidang ilmu keislaman. Ulama, gambaran sosok ilmuwan Islam dan mempunyai kepribadian yang baik (excellent). Meskipun, secara organisatoris  ada lembaga ulama yang dikenal dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Lembaga ini adalah wadah berkumpulnya para ulama yang berfungsi untuk menjamin tegaknya ajaran Islam dan pembimbing umat Islam. Ulama adalah individu yang mapan keilmuannya, walaupun individu tersebut tidak bergabung atau masuk dalam lembaga ulama. Dan tidak berarti individu tersebut bukan ulama. Jadi, sosok ulama bukan dilihat dari organisasi ulama tetapi dilihat dari kompetensi keilmuannya. Dan banyak sekali ulama yang tidak bergabung dan masuk dalam organisasi namun mereka tetap eksis dan terus mengaktualisasi dirinya sebagai pembimbing umat Islam.
Begitu juga ulama yang tidak eksis di masyarakat, tetapi mereka semua adalah ulama dan jumlah mereka juga banyak. Sebab, lembaga pendidikan Islam telah membentuknya menjadi ilmuwan Islam, yakni individu yang ditempa untuk mendalami ajaran Islam. Hanya saja  eksistensi mereka pasif dan tidak aktif seperti ulama yang populer dan dikenal oleh semua orang, baik tingkat lokal, regional, nasional maupun international. Ulama adalah ilmuwan Islam yang tiada hentinya berjuang dan mengabdikan dirinya untuk umat Islam dan bangsanya. Mereka adalah para ustadz, kiyai, da’i, tengku dan  sarjana Islam atau sebutan dengan nama lainnya. Namun mereka semua adalah orang yang sangat mengerti tentang ajaran Islam. Hanya saja tingkat popularitas mereka diukur dengan kualitas dan kemampuan  dalam mengaktualisasikan dirinya pada ruang publik. Dan pada akhirnya, ulama tersebut dikenal dan dikagumi oleh masyarakat.
Dalam konteks Indonesia saya melihat bahwa sosok ulama lebih dikenal dengan sebutan ustadz, tengku, kiyai, da’i dan sarjana Islam atau sebutan nama lain yang merujuk pada kemampuan dan kedalaman ilmunya dalam bidang agama Islam. Jika sebutan diatas  bukan untuk menunjuk pada term ulama, maka siapa lagi yang disebut ulama. Bukankah lembaga pendidikan Islam yang bertanggung jawab untuk melahirkan ulama. Bukankah kita mengetahui bahwa tidak ada sekolah yang khusus untuk melahirkan ulama atau sekolah ulama. Jika ada sekolah ulama, maka sekolah itulah yang kemudian bertanggung jawab untuk membentuk dan melahirkan ulama.  Dan kita juga mengetahui bahwa MUI dan MPU telah menyusun program pendidikan kader ulama. Apakah lulusan pendidikan tersebut yang disebut ulama sehingga mendapat lisensi memakai gelar ulama yang mendapat legalitas dari MUI dan MPU. Atau program pendidikan kader ulama sebagai respons atas krisis ulama atau respon terhadap krisis aktualisasi ulama sehingga menyita perhatian MUI dan MPU segera mengambil langkah antisipasinya. Tetapi, setidaknya MUI dan MPU telah merasakan adanya krisis aktualisasi ulama dan bukan krisis ulama sehingga dibutuhkan program memperkuat posisi ilmuwan Islam atau ulama. Dan ini merupakan program brilian dalam memahami kondisi kekikinian.

B.     PENUTUP
Ulama tidak terlahir secara alamiah tetapi harus dibentuk dan dilahirkan untuk menjadi ulama melalui proses pendidikan. Pendidikan faktor penting dan menentukan bagi kemunculan ulama. Kharismatik atau tidaknya ulama ditentukan oleh ulama itu sendiri, populer dan tidak populernya ulama dilihat dari  seberapa besar pengaruhnya dimasyarakat dan tingkat pengetahuannya terhadap agama Islam serta kepribadiannya.  Tidak ada batasan kuota ulama sehingga harus ditentukan jumlah kelahirannya. Pintu menjadi ulama terbuka lebar dan mengundang siapa saja yang ingin menjadi ulama atau ilmuwan Islam.
Negara telah membuka peluang tersebut dengan menyelenggarakan lembaga pendidikan Islam ditanah air dan memberikan izin kepada lembaga pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan jumlah yang relatif banyak. Oleh karena itu, siapapun dari umat Islam tanpa terkecuali  dapat mengakses dan belajar dilembaga tersebut. Dan kita berharap semua lulusan lembaga pendidikan Islam dapat mengaktualisasikan ilmu yang diperolehnya untuk kepentingan umat Islam dan negara serta krisis aktualisasi ulama tidak akan ada lagi. Dan Indonesia menjadi negara para ulama, sebab Indonesia merupakan negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam.

SEBUAH KONSEP KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN



A.    PENDAHULUAN

Kepemimpinan (leadership) dan Kekuasaan adalah dua kutub yang tidak bisa dipisahkan secara kongkrit dan partial, karena, antara kedua kutub ini saling keterkaitan dan mendukung (simbiosis mutualisme), kondisi ini semakin kentara relasi antara kedua variabel tersebut, pada satu sisi kepemimpinan mendiskusikan aspek-aspek esensi seorang leader dalam bentuk sifat dan fungsi serta kompetensi untuk mengsugesti orang yang berada di bawah garis kepemimpinannya. Pada sisi yang lain, bahwa kekuasaan (power) merupakan energi primer yang mesti disematkan pada seorang pemimpin. Power  dapat dipahami sebagai energi yang mengambil bentuk sebagai kewenangan yang ada untuk di miliki dan diberikan kepada seorang pemimpin, agar kepemimpinan itu memiliki kewibawaan.
Power (kekuasaan) dapat menggerakkan  bawahan untuk sama-sama menjalankan aktifitas organisasi, negara, lembaga-lembaga swadaya mencapai tujuan organisasi. Mengapa, karena semua organisasi atau institusi memiliki visi yang mesti dicapai. Tujuan (goal, aim) merupakan target yang harus dicapai, untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan lokomotif atau marsinis untuk memandu arah perjalanan organisasi berada pada kondisi yang di cita-citakan atau sampai pada tujuan yang telah ditetapkan. Pada tulisan ini, penulis akan mendeskripsikan, mendiskusikan dan menganalisis tema sentral yakni kepemimpinan dan kekuasaan. Dalam konteks bahasan tersebut, akan di urai secara detail beberapa kutub yang dianggap krusial dalam topik diskusi ini, agar topik diskusi diatas dapat dilihat secara totaliti atau komprehensif. Dalam tulisan ini akan dibicarakan aspek - aspek yang berkenaan dengan kepemimpinan dan kekuasaan yakni: Teori Kepemimpinan, Manfaat kepemimpinan, Konsep kekuasaan dan Kepemimpinan Pemberdayaan.
1.        Teori Kepemimpinan
Sebelum membahas mengenai teori kepemimpinan (leadership), disini penulis akan menguraikan arti kepemimpinan agar teori  kepemimpinan yang akan dikemukakan menjadi mudah untuk di pahami. Pengertian kepemimpinan penting untuk di paparkan, karena arti tentang sesuatu objek pengkajian begitu penting untuk membuka arah dan persepsi terhadap fukos kajian.
Definisi tentang kepemimpinan bervariasi sebanyak orang yang mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan. Definisi kepemimpinan secara  luas meliputi  proses memengaruhi  dalam menentukan tujuan organisasi, motivasi prilaku pengikut  untuk mencapai tujuan, memengaruhi  untuk memperbaiki kelompok  dan budayanya. Selain itu juga memengaruhi interpretasi  mengenai peristiwa-peristiwa  para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas  untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi.[1]
Hemphill dan Coons dalam Wahjosumidjo[2] mengatakan kepemimpinan merupakan prilaku individu  ketika dia mengarahkan kegiatan kelompok untuk mencapai mencapai tujuan  bersama kelompok tersebut. Weshler dan Massarik mendefiniskan kepemimpinan adalah pengaruh antar personal, dilakukan dalam suatu situasi, dan diarahkan melalui proses komunikasi, untuk pencapaian suatu tujuan atau lebih.
Herbert N Casson[3] mengatakan bahwa seorang pemimpin itu dapat disamakan dengan seorang wasit pertandingan sepak bola, maka seorang pemimpin bukan saja harus  cepat, tetapi ia juga harus jujur dan adil dalam menentukan keputusannya.
Kepemimpinan juga dikatakan sebagai proses mengarahkan dan memengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungangannya  dengan pekerjaan para anggota kelompok. Tiga implikasi penting yang terkandung dalam hal ini yaitu : (1) kepemimpinan itu melibatkan orang lain baik itu bawahan maupun  pengikut, (2) kepemimpinan melibatkan pendistribusian  kekuasaan  antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang, karena anggota kelompok bukanlah tanpa tanpa daya, (3) adanya kemampuan  untuk menggunakan bentuk  kekuasaan  yang berbeda untuk memengaruhi tingkah laku pengikutnya melalui berbagai cara.[4] Kebanyakan pemimpin perusahaan biasanya sudah merasa puas setelah memperoleh pengahargaan sebagai good company. Pada perusahaan ini biasanya ditemui tingkat keuntungan positif, cara kerja efesien, citra perusahaan yang sangat bagus dan eksekutif - eksekutif yang cakap.[5]                                                      
Ada beberapa teori tentang kepemimpinan, teori ini penting untuk di ketahui agar kepemimpinan itu dapat berjalan dengan baik. Adapun teori tersebut adalah :
a.        Teori Sifat
Teori sifat yang berusaha untuk mengidentifikasikan kharakteristik khas (fisik, mental, kepribadian) yang dikaitkan dengan keberhasilam kepemimpinan. Teori ini menekankan pada atribut-atribut pribadi dari pemimpin. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa beberapa orang merupakan pemimpin alamiah dan dianugerahi beberapa ciri yang tidak dipunyai orang lain seperti energi yang tiada habis-habisnya, intuisi yang mendalam, pandangan masa depan yang luar biasa dan kekuatan persuasif yang tidak tertahankan. Teori kepemimpinan ini menyatakan bahwa keberhasilan manajerial disebabkan karena memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa dari seorang pemimpin.
1)        Inteligensia : Ralph Stogdill (1992) mengemukakan bahwa para pemimpin lebih pintar dari pengikut-pengikutnya. Perbedaan inteligensia yang ekstrim antara pemimpin dan pengikut yang dapat menimbulkan gangguan. Sebanyak  seorang pemimpin dengan IQ yang cukup tinggi berusaha untuk memengaruhi suatu kelompok yang anggotanya memiliki IQ rata-rata kemungkinan tidak akan mengerti mengapa anggotanya tidak  memahami persoalannya.
2)        Kepribadian : Beberapa hasil riset menyiratkan bahwa sifat kepribadian seperti kesiagaan, keaslian, integritas pribadi, dan percaya diri diasosiasikan dengan kepemimpinan yang efektif.
3)        Karakteristik Fisik : Studi  mengenai hubungan antara kepemimpinan yang efektif dan karakteristik fisik seperti usia, tinggi badan, berat badan, dan penampilan memberikan hasil yang bertolak belakang.[6]
b.        Teori Kepribadian Perilaku
Diakhir tahun 1940 - an para peneliti mulai mengeksplorasi pemikiran bahwa bagaimana perilaku seseorang dapat menentukan keefektifan kepemimpinan seseorang. Dan mereka menemukan sifat-sifat, mereka meneliti pengaruhnya pada prestasi dan kepuasan dari pengikut-pengikutnya.
1)   Studi Dari University of Michigan
Telaah kepemimpinan yang dilakukan pada Pusat Riset University Of Michigan, dengan sasaran ; melokasikan karakteristik perilaku kepemimpinan yang tampaknya dikaitkan dengan ukuran keefektifan kinerja. Melalui penelitian mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan yang berbeda, disebut sebagai job – centered dan berorientasi pada pekerjaan dan employee – centered yang berorientasi pada karyawan.
2)   Studi Dari Ohio State University
Diantara beberapa program besar penelitian kepemimpinan yang terbentuk setelah Perang Dunia II, Fleishman dan rekan-rekannya di Ohio State University. Program ini menghasilkan perkembangan teori  dua faktor dari kepemimpinan. Suatu seri penelitian mengisolasikan dua faktor kepemimpinan, yaitu membentuk struktur dan konsiderasi.[7]



2.        Teori Kepemimpinan Situasional
Suatu pendekatan terhadap kepemimpinan yang menyatakan bahwa pemimpin memahami prilakunya. Sifat-sifat bawahannya, dan situasi sebelum menggunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan ini mensyaratkan pemimpin untuk memiliki keterampilan diagnostik dalam prilaku manusia.[8]

3.        Pendekatan Terbaru dalam Kepemimpinan
Menutup tinjauan mengenai teori kepemimpinan yaitu dengan menyajikan tiga pendekatan  lebih baru terhadap persoalan : suatu teori atribusi kepemimpinan, kepemimpinan karismatik, dan kepemimpinan transaksional lawan transformasional.
a.         Teori Atribusi Kepemimpinan
Teori ini mengemukakan bahwa kepemimpinan semata-mata suatu atribusi yang dibuat orang mengenai individu-individu.
b.        Teori Kepemimpina Karismatik
Teori kepemimpinan karismatik  merupakan suatu perpanjangan dari teori-teori atribusi. Teori ini mengemukakan bahwa para pengikut membuat atribusi (penghubungan) dari kemampuan kepemimpinan yang heroik atau luar biasa bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu. Telaah mengenai kepemimpinan karismatik sebagian besar telah diarahkan pada pengidentifikasi perilaku-perilaku yang membedakan pemimpin karismatik  daripada mereka yang non karismatik.
c.         Kepemimpinan yang Transaksional Lawan Transformasional
1)   Pemimpin transaksional, pemimpin yang memandu atau memotivasi pengikut mereka dalam arah tujuan yang ditegakkan dengan memperjelas peran dan tuntutan tugas.
2)   Pemimpin yang transformasional, pemimpin yang memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual  yang diindividualkan, dan yang memiliki karisma.[9]

4.        Dasar konseptual Kepemimpinan Perspektif Islam
Selain teori diatas, Islam juga menawarkan konsep mengenai kepemimipinan tersebut. Untuk memahami dasar konseptual dalam perspektif Islam paling tidak harus digunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan normatif, historis dan teoritik.
a.        Pendekatan Normatif
Dasar konseptual  kepemimpinan Islam secara normatif bersumber pada al-Qur’an dan Hadis yang terbagi atas empat prinsip pokok, yaitu:
1)        Prinsip tanggung jawab dalam organisasi
2)        Prinsip etika tauhid
3)        Prinsip keadilan
4)        Prinsip Kesederhanaan
b.        Pendekatan Historis
Al-Qur’an  begitu kaya dengan kisah - kisah umat masa lalu sebagai pelajaran dan bahan perenungan bagi umat yang akan datang. Dengan pendekatan historis ini diharapkan akan lahir pemimpin –pemimpin Islam yang memiliki sifat siddig, fathanah, amanah, dan lain-lain syarat keberhasilannya dalam memimpin. Kisah- kisah dalam al-Qur’an, Hadis, sirah nabawiyah, sirah sahabah telah memuat pesan-pean moral yang tak ternilai harganya. Dan semua sejarah secara objektif akan bertutur dengan jujur tentang betapa rawannya hamba Allah yang bernama manusia ini untuk tergelincir  kedalam lautan dosa, tidak terkecuali seseorang nabi sekalipun tetap bisa tergelincir karena khilaf.
c.         Pendekatan Teoritik
Ideologi Islam adalah ideologi yang terbuka. Hal ini mengandung arti  walaupun dasar-dasar konseptual  yang ada didalam bangunan ideologi Islam sendiri sudah sempurna, namun Islam tidak menutup kesempatan mengomunikasikan ide-ide dan pemikiran-pemikiran dari luar Islam selama pemikiran tersebut tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.
Pengembangan ilmu pengetahuan, kerangka manajemen Islam selama berada dalam koridor ilmiah tentunya sangat dianjurkan mengingat kompleksitas permasalahan dari zaman ke zaman akan selalu bertambah dan sejarah Islam pun mencatat dalam setiap zaman akan lahir pembaharu – pembaharu pemikiran Islam yang  membangun  dasar- dasar konseptual yang  relevan  dengan zamannya[10]

5.        Manfaat Kepemimpinan
Kepemimpinan sangat bermanfaat bagi sebuah organisasi maupun perusahaan. Organisasi itu ada yang bersifat profit (profit organization) dan organisasi sosial (social organization). Dengan adanya kepemimpinan, maka organisasi dapat mudah dijalankan untuk mencapai tujuan. Manfaat kepemimpinan yakni; untuk menjadikan kehidupan menjadi lebih baik dan terkendali atau terkontrol, Kepemimpinan dapat memimpin orang banyak atau massa, kepemimpinan dapat memberikan arah masa depan dalam rangka mencapai tujuan organisasi, kepemimpinan dapat memprogramkan skala prioritas kegiatan-kegiatan organisasi dan  seorang pemimpin memiliki kepribadian yang kokoh dalam menjalankan tugasnya sebagai lokomotif lembaga.
Fungsi artinya jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh. Sedangkan fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan diluar situasi itu. Fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi.[11]
Secara operasional  dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok kepemimpinan yaitu :
a.     Fungsi instruksi
Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikasi merupakan pihak yang menetukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif.

b.    Fungsi Konsultasi
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan . Pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-oarang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan  informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan.
c.    Fungsi Partisipasi
Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin  berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya.
d.        Fungsi Delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan.
e.         Fungsi Pengendalian
Fungsi pengedalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses /efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yan efektif sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Funsi pengendalian  dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi dan pengawasan.[12]
Menurut Jerome Want dalam Wibowo, prinsip – prinsip kepemimpinan yang benar adalah; 1) Decision making (pengambilan keputusan), 2) Leadership (kepemimpinan), 3) communication (komunikasi), 4) Appreciation differences (menghargai perbedaan), 5) Personal excellence (keunggulan personal), 6) Business succes (keberhasilan bisnis), 7) Continuous learning (pembelajaran berkelanjutan), 8) Vibrant workplace (tempat kerja bersemangat), 9) Ethics (etika), 10) Patnership (kemitraan), 11) Passion for coffee (berkeinginan besar), 12) Planning and measuring (merencanakan dan mengukur), 13) Shared ownership (kepemilikan beramasa), 14) Sustainability (keberlanjutan), 15) World benefit (manfaat bagi dunia).[13]

6.        Konsep Kekuasaan
Dalam setiap hubungan antar manusia maupun antar kelompok sosial selealu tersimpul  pengertian-pengertian  kekuasaan dan wewenang. Untuk  sementara  pembahasan akan dibatasi pada kekuasaan, yang diartikan sebagai kemampuan  untuk mempengaruhi fihak lain menurut kehendak  yang ada pada pemegang  kekuasaan tersebut. Kekuasaan terdapat  disemua bidang  kehidupan dan dijalankan. Kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah (agar yang diperintah patuh) dan juga memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung  mempengaruhi tindakan-tindakan  pihak-pihak lainnya.[14]
Max Waber mengatakan bahwa kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan –kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu. Kekuasaan mempunyai aneka macam bentuk, dan bermacam-macam sumber. Hak milik kebendaan dan kedudukan adalah sumber kekuasaan. Birokrasi juga merupakan salah satu sumber kekuasaan, disamping kemampuan khusus dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan yang tertentu atau pun atas dasar peraturan-peraturan hukum yang tertentu. Jadi kekuasaan terdapat dimana-mana, dalam hubungan   sosial maupun didalam organisasi – organisasi sosial. Akan tetapi pada umumnya kekuasaan yang tertinggi berada pada organisasi yang dinamakan ‘negara’. Secara formal negara mempunyai hak untuk melaksanakan kekuasaan tertinggi, kalau perlu dengan kekuasaan. Juga negaralah yang membagi – bagikan kekuasaan yang lebih derajatnya. Itulah yang dinamakan kedaulatan (sovereignity).[15]
Konsep kekuasaan (power) erat sekali hubungannya dengan konsep kepemimpinan. Dengan memiliki kekuasaan, pemimpin memperoleh alat untuk  memengaruhi prilaku para pengikutnya. Pemimpin seharusnya tidak hanya menilai perilakunya sendiri agar mereka dapat mengerti bagaimana mereka memengaruhi orang lain, akan tetapi juga pemimpin  harus mau dan mampu menilai posisi mereka dan cara menggunakan kekuasaan.[16]
Ada beberapa pandangan tentang pengertian kekuasaan :
a.         Kekuasaan adalah suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor didalam suatu hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan yang mampu menghilangkan rintangan (max Weber)
b.         Kekuasaan adalah suatu kemampuan untuk memengaruhi aliran energi dan dana yang tersedia untuk mencapai tujuan yang berbeda secara jelas dari tujuan lainnya (Wafterd Nord)
c.         Kekuasaan dipergunakan hanya jika tujuan-tujuan tersebut  paling sedikit mengakibatkan  perselisihan satu sama lain. Kekuasaan adalah suatu  produksi dari akibat yang diinginkan (Russel)
d.        Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempergunakan kekuatan (Bierstedt)  Kekuasaan adalah  suatu kontrol atas orang lain yang berhasil (Wrona)
e.         Kekuasaan adalah jika orang A mempunyai kekuasaan atas orang B, maka A bisa meminta B untuk melaksanakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan  oleh B terhadap A (Dahl)
f.         Kekuasaan sebagai suatu potensi dan suatu pengaruh (Rogers)[17]
Dengan demikian, kekuasaan adalah suatu sumber yang bisa atau tidak bisa untuk dipergunakan. Penggunaan kekuasaan selalu mengakibatkan perubahan dalam kemungkinan bahwa seseorang atau kelompok akan mengangkat suatu perubahan perilaku yang diinginkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kekuasaan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin.[18] Kekuasaan dipandang sebagai kekuatan yang negatif dan juga positif; sifat dialektis tetapi mode of operation-nya selalu represif.[19]
Selain itu, kekuasaan adalah suatu kapasitas yang dimiliki A untuk memengaruhi perilaku  B sehingga B melakukan apa yang mau tidak mau harus  dilakukannya. Pengertian ini mengandung tiga makna, yaitu :
1)        Suatu potensial  yang tidak perlu diaktualkan menjadi efektif
2)        Suatu hubungan ketergantungan
3)        Pengandaian bahwa B mempunyai sesuatu kekuasaan (diskresi) mengenai perilakunya sendiri. [20]
Kekuasaan  merupakan organisasi konsep tunggal  yang sangat penting  dalam teori sosial dan politik yang terus diperdebatkan . Karenanya , kekuasaan  merupakan asoek fundamental  dalam kehidupan sosial. Kekuasaan  merupakan fenomena perilaku yang dekat, langsung, dan dapat diuji secara empiris (direct power). Kekuasaan menunjukkan  kapasitas untuk merumuskan kembali  konteks struktur  yang tidak langsung, terpendam (laten), dan konsekwensinya sering kali tidak disengaja.[21]
Asumsi –asumsi yang mendasari konsep kekuasaan adalah :
a)        Kekuasaan adalah suatu alat
b)        Kekuasaan memiliki mekanisme atau efek kausal yang simpel
c)        Kekuasaan adalah sesuatu yang seharusnya dimiliki, dan
d)       Kekuasaan dibagi secara adil dalam sebuah permainan yang tidak menghasilkan pemenang (zero sum game).[22] 
Kekuasaan dalam arti yang sebenarnya adalah kekuatan untuk mengendalikan orang lain sehingga orang lain sama sekali tidak punya pilihan, karena tidak berdaya untuk menentukan diri sendiri atau tidak mengetahui bagaimana memperoleh sumber daya yang mereka perlukan. Kekuasaan tidak hanya diperoleh semata-mata dari tingkatan seseorang dalam hirarki organisasi. Tetapi bersumber dari bermacam-macam jenis psikologis kekuasaan. [23]

7.        Kepemimpinan  Pemberdayaan
Untuk membangun  self - leadership adalah melalui budaya yang memacu kreatifitas. Untuk memacu kreatifitas  tidak ada petunjuk apa yang harus dilakukan, bagaimana memperolehnya dan bagaimana melakukannya. Tidak ada petunjuk khusus. Setiap orang dalam melakukan tugasnya harus bertanya dan mencari informasi sebanyak mungkin, lalu mengambil keputusan sendiri.  Tujuannya adalah agar dapat membangun budaya mandiri. Setiap orang harus mampu berkrasi dan melakukan perubahan  karena perubahan didunia setiap saat. Super leader harus menciptakan suatu organisasi belajar yang selalu memacu orang untuk mengerjakan kembali sesuatu untuk meraih yang terkait.[24]Namun demikian, para ahli manajemen banyak mengungkapkan  bahwa budaya oragnisasi dapat memengaruhi persepsi, pandangan, dan cara kerja orang yang ada didalamnya.[25] Menurut Wilson dan Rosenfied, Budaya perusahaan bersidat sangat pervasif dan memengaruhi hampir keseluruhan aspek kehidupan organisasi.[26]
Organisasi sebagai sistem terbuka atau sebagai sistem sosial, berarti organisasi melibatkan orang yang pada akhirnya organisasi itu bergantung kepada usaha orang-orang itu untuk tampil dan berprilaku.[27]
Menurut Veithzal dan Dedy Mulyadi,  kepemimpinan juga bukan sekedar proses penurunan sifat / bakat dari orang tua kepada anaknya, tetapi lebih  ditentukan oleh semua aspek-aspek kepribadian, sehingga dapat menjalankan kepemimpinan yang efektif, diantaranya;
a.         Inteligensi yang cukup tinggi
b.        Kemampuan melakukan analisis situasi dalam mengambil keputusan
c.         Kemampuan mengaplikasikan  hubungan manusiawi yang efektif agar keputusan dapat dikomunikasikan.[28]
Oleh karena itu, seorang pemimpin berkewajiban memberikan kesempatan pada orang-orang yang dipimpinnya, untuk mencari dan mendapatkan  pengalaman pemimpin. Kesempatan itu terutama diberikan kepada orang-orang yang mempunyai sikap  dan sifat bawaan yang mendukung untuk menjadi pemimpin. Kesempatan yang diberikan tersebut  merupakan kegiatan yang berisi upaya-upaya  yang mendukung bagi terbentuknya integritas kepribadian dan kemampuan orang lain secara intensif sehingga dapat mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin dimasa depan, yang disebut proses kaderisasi.[29]
Kader diartikan sebagai orang yang diharapkan  akan memegang jabatan atau pekerjaan penting di pemerintahan, partai, dan lain-lain.  Sedangkan pengkaderan adalah proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang manjadi kader. Kaderisasi kepemimpinan berarti proses mempersiapkan  seseorang untuk menjadi pemimpin pengganti dimasa depan, yang akan memikul  tanggung jawab penting dilingkungan  suatu organisasi. Mengapa kaderisasi diperlukan, karena semua manusia termasuk yang sekarang menjadi pemimpin, suatu saat pasti akan mengakhiri kepemimpinannya, baik dikehendaki maupun tidak. Proses tersebut dapat terjadi karena :
1)        Dalam suatu organisasi ada ketentuan periode kepemimpinan seseorang
2)        Adanya penolakan dari anggota kelompok, yang menghendaki pemimpinnya diganti, baik secara wajar maupun tidak wajar
3)        Proses alamiah, menjadi tua dan kehilangan kemampuan memimpin
4)        Kematian.



Mengapa kaderisasi perlu diupayakan
a)        Agar tersedia jumlah pemimpin yang cukup dan berkualitas sehingga kader aktif mempersiapkan diri agar lebih berkualitas dari generasi sebelumnya.
b)        Organisasi membuat perkiraan dalam jumlah, jenis dan kualitas pemimpin yang diperlukan  dimasa depan secara berkesinambungan, agar semakin banyak kader  yang disiapkan, akan semakin baik, karena tersedia peluang untuk memilih yang terbaik diantaranya.[30]

B.     PENUTUP
Kepemimpinan itu sangat penting dalam kehidupan ini, bahkan sangat penting dalam mengelola sebuah lembaga, organisasi, perusahaan dan juga negara sebagai organisasi yang lebih besar. Pemimpin harus mempunyai kepemimpinan yang sangat bagus agar kegiatan dan program  - program yang dirumuskan  dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Kepemimpinan itu menajdi faktor penentu bagi maju dan mundurnya sebuah organisasi atau lembaga, karena tanpa pemimpin yang cerdas dan memiliki loyalitas, dedikasi yang baik, maka roda organisasi akan mengalami kemunduran bahkan organisasi bisa mengalami kehancuran dalam berbagai aspeknya.



[1] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Ed. Revisi (Jakarta : Rajawali Pers, 2009) h. 2
[2] Wahjosumidjo, Dasar-Dasar Kepemimpinan dan Komitmen Kepemimpinan Abad XXI (Jakarta : LAN, 2000)h.4
[3] Herbert N Casson, Bagaimana Seharusnya jadi Pemimpin (Bandung ; PT Al-Maarif, 1995) h. 19
[4] Veithzal Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan, h. 2
[5] Rhenald Kasali, Change (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005).h. 328
[6] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan, h. 8
[7] Ibid, h. 9
[8] Ibid, h. 9
[9] Ibid, h. 9-10
[10] Ibid, h. 10-12
[11] Ibid, h. 34
[12] Ibid, h. 34-35
[13] Wibowo, Budaya Organisasi : Sebuah Kebutuhan Untuk Meningkatkan Kinerja Jangka Panjang (Jakarta : Rajawali Pers, 2010) h. 323-326
[14] Soerjano Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta : Rajawali Pers, 1992) h. 296
[15] Ibid, h. 296- 297
[16] Veithzal Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan, h. 341-342
[17] Ibid, h. 342
[18] Ibid, h. 342
[19]Paulo Freire, Politik Pendidikan : Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan (Yogyakarta : Read Bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 2007)h. 16
[20] Veithzal Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan, h. 342-343
[21] Haris, Politik Organisasi Perspektif Mikro Diagnosa Psikologis (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006) h, 28
[22] Ibid, h. 28
[23] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2000) h. 76
[24] Veithzal Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan, h. 83
[25] Aan  Komariah dan Cepi Triatna, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2008) h.. 98
[26] Uyung Sulaksana, Managemen Perubahan (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004) h. 165
[27]Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarta : PT RajaGrafindo, 2008) h. 44
[28] Veithzal Rivai Dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan, h. 95
[29] Ibid,  h, 95-96
[30] Ibid, h. 96

SERINGLAH BELAJAR

Sering terdengar kata belajar, apakah belajar sesuatu yang penting atau tidak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan substantif. Jika ti...